بحر العلوم

Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang

Just your Environment of your life

Life make strong,,. make benefic for environment,. life in chherfull and fresh,..

Keep Dreaming!

With dreaming, you can get spirit of future.

When you dreaming

ketika kau yakin dengan apa yang kau inginkan. dan merasa kuat akan mimpi itu, kau akan temukan janji-janji indah yang sedang menantimu. meskipun sekarang kau tak bisa melihat janji0janji itu,.

Beraksi!

Berusahalah sebisa kamu! Give the best for the best result! Don't hopeless easily,.. :)

Pencarianku,.

0 komentar



Ku dengar lantunan kalam-kalam indah, sejukkan hati, tentramkan jiwa, meramaikan kesunyian malam. Suara adzan itu menyanjungkan hati ini. Menatap indahnya langit cerah, aku terpana, melihat bintang kemilau bebas tanpa rintangan. Hati in terasa damai. Ku angan, ku pandangi bintang. Akankah aku mempunyai sebuah kebebasan? Bebas di alam sana, bebas dengan apa yang aku ingin lakukan. Kini, semua ini hancur. Hancur. Tiada lagi kepingan puzzle impianku.
            Ku dengar langkah kaki ayahku menghampiri. Aku tengah melamun. Ku coba tersenyum ramah, tapi ketika aku sadar dan menoleh, kulihat muka geram yang menakutkan. Kedua kepal tangannya di pinggang. Sebelum ia lantunkan kata-kata  indah yang pahit itu, aku langsung berlari menuju kamar. Ku kunci pintu kamarku dari dalam. Ku buka diary orangeku. Ku curahkan semuanya ke sahabat terdekatku.
Dear diary,,
Aku tak tahu semua ini akan terjadi
Aku terkekang!
Aku ingin bebas
Mengapa sejak kejadian yang lalu itu
Membuat ayah menjadi seperti ini?
Aku tak kuat lagi,,
Aku ingin pergi
Dari penjara terkutuk ini
Aku ingin bebas,,,.

###

            Hari demi hari kujalani dengan rasa kekekangan. Aku jalani dengan dengki. Aku mulai merasa muak dengan semua ini. Suatu ketika aku mencoba untuk pergi dari sini.
“Din, aku boleh nggak nginep di rumahmu?” tanyaku kepada Dina.
“Emang rumah kamu kenapa Vi?”tanyanya balik kepadaku.
nggak ada apa-apa, aku ingin aja. Nggak boleh? Yah sudah, kalau nggak boleh juga nggak apa-apa koq,,”
“eh, bukan itu maksudku, aku takut nanti kamu di marahi ayah kamu.”
“oh, masalah itu,,, nggak usah khawatir, aku udah izin ke Ayah kok,. Tenang aja lagi. Boleh kan?”
“beneran nich udah bilang?”
“he’em. Boleh nggak nich?”
“ ya udah kalau gitu. Memang kapan?”
“malam ini ya?”
“ya dech. Ntar pulang sekolah bareng sama aku ajah.”
“Yess! Akhirnya aku bisa kabur dari rumah.” Desirku dalam hati.
Akupun bilang pada mang Ujang kalau aku ada kerja kelompok di rumah Resti. Dengan mudahnya, Mang Ujang mempercayaiku. Padahal aku tidak mempunyai teman sekelas yang bernama Resti. Yess,,, aku berhasil.

###

            Aku telah pergi dari kota ini. Dengan uang yang banyak di rekeningku, aku bisa mencukupi kehidupanku sehari-hari. Aku bisa mengontrak sebuah rumah kecil di jalan Sudirman. Aku sengaja mengambil semua uang di rekening itu, dan membuat rekening baru. Aku mulai hidup mandiri. Di kekejaman kota ini. Semula aku merasa bimbang akan semua ini. Tapi, aku ingin mencintai dunia, bukan mencintai penjara yang mewah itu.
            Ku coba melamar pekerjaan di berbagai tempat. Tapi, sudah seminggu aku belum menemukan pekerjaan yang cocok untukku. Bagaimana aku bisa menemukannya, dari kecil aku tidak pernah melakukan suatu hal yang baru. Aku selalu dimanjakan,  aku selalu di atur untuk melakukan segala sesuatu apapun aku tidak pernah diperbolehkan. Ayahku yang merencanakan itu semua. Sekarang ayah tengah berrubah. Apalagi setelah kecelakaan yang menewaskan ibuku yang sedang hamil. Ayah semakin memanjakanku. Tetapi, bukan kemanjaan seorang anak mama, melainkan segala sesuatu yang akan aku lakukan harus  dalam penjagaan dan schedule ayah. Aku risih dengan semua ini.
            Ku mulai hidupku yang baru. Aku berharap hidupku kan lebih berwarna tanpa kekangan, tanpa schedule yang berlebihan. Entah, aku tidak peduli dengan keadaan ayahku di sana. Aku sudah terlalu sakit hati dengan semua yang telah dilakukannya kepadaku. Meskipun itu demi kebaikanku, tuturnya.

###
           
            Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan yang sangat tidak layak bagiku. Ya, aku menjadi seorang cleaning service di sebuah perusahaan swasta. Ku coba untuk terima kenyataan ini.
Setiap malam aku selalu menunggui para pegawai yang sedang nglembur. Aku suka nongkrong di depan pintu masuk. Di sana aku suka bercanda dengan kang Anam, satpam perusahaan dimana aku bekerja.
            Suatu malam, aku masih di dalam kantor, baru keluar dari ruang direktur.
“Via, kesini deh.” Tiba-tiba mbak Indah memanggilku.
“Iya mbak, ada apa?”
“Ehmm,, kamu udah selesai beres-beresnya?”
“udah mbak, emang kenapa?”
“emm,, kamu mau nggak bantuin mbak nyelesain tugas ini?”
“waduh,, mbak saya tidak bisa,,”
“ah,, bisa. Gampang kok. Mbak mau beli makan dulu.”
“hhmmm,,, gini aja mbak, saya yang belikan.” Elakku.
nggak usah, kamu pasti nggak tahu tempatnya. Lagian ada suatu hal yang harus aku selesaikan. Sebentar kok.”
“ya udah, saya tunggu mbak aja.”
“masalahnya ini harus selesai besok pagi Vi, dan aku harus pergi sekarang, sebentar kok. Please,, bantu aku yach?”
“ya dech mbak, nanti biar saya coba”
            Mbak Indah pergi meninggalkanku di depan komputer. Dengan hati ragu, aku mencoba membaca semua laporan dan meneruskan beberapa penutup. Akhirnya aku bisa menyelesaikan laporan itu dan mbak Indah pun datang.
“sudah selesai Vi?”
“oh,, sudah mbak. Udah selesai urusannya mbak?”
“alhamdulillah sudah.”
“ya sudah, saya keluar dulu ya mbak.”
“oh iya, terima kasih Vi.”
“sama-sama mbak.”
            Dari kejadian malam itu, tanpa sengaja aku menjadi asisten mbak Indah. Setelah beberapa bulan, mbak Indah menawariku untuk menjadi pegawai di kantor ini, yaitu dengan  membuat laporan di salah satu bidang. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menerima tawaran itu. Setelah menyerahkan hasil laporanku kepada bos. Beliau memanggilku ke ruangannya.
“Alfiatun Nisak?”
“ya pak.”
“saya sudah memeriksa laporan kamu.”
“bagaimana pak?”
“saya rasa, saya tidak berminat menjadikanmu sebagai karyawan di sini.”
“lalu pak?”
Pak Karno diam sejenak.
“saya rasa kamu sudah tidak pantas menjadi cleaning service.”
“dengan laporan itu saya tidak dipecat kan pak? Kalau karena hal itu saya di pecat, lebih baik saya tidak mengikuti ajakan mbak Indah.” Celetusku.
“tolonglah pak,, jangan pecat saya. Saya mau hidup dengan apa jika saya tidak bekerja disini lagi pak” isakku sambil memohon.
“hahaha,, tidak Vi, kamu tidak saya pecat. Kamu saya angkat menjadi asisten manager. Kamu mau?”
“apa pak? Bapak tidak berbohong kan?”
“tidak Vi, melihat laporanmu tentang pemasaran itu, kamu rupanya berbakat untuk menjadi asisten manager.”
“terima kasih pak.”
            Akhirnya aku bisa mewujudkan cita-citaku. Aku pulang dengan hati bahagia. Ya, aku pernah ingin menjadi pengusaha muda yang sukses. Meskipun belum menjadi seorang pengusaha, aku bahagia sekali menempati tempat asisten manager di usiaku yang masih belia.

###

            Setibanya di rumah kontrakan. Aku mulai bercerita dengan teman setiaku.
Dear my best friend,,,.
Hari ini aku bahagia sekali. Aku diangkat menjadi asisten manager pemasaran. Akhirnya aku bisa mendaki jalan untuk menggapai impianku di usiaku ini. Mungkin teman-temanku sekarang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk Ujian Akhir Nasional. Aku bahagia karena ku bisa bebas dari semua itu dan kini aku harus mulai memperjuangkan karirku, jangan sampai aku  jatuh.
Ya Allah,,, Alhamdulillahirobbil ‘aalamiin,,,, Engkau telah memberikan yang terbaik untuk hamba Ya Alloh,,,. Alhamdulillah,,,,,,, ^_^

###
“bapak, ada tamu.” Ucap ,mang Ujang
“ada apa?”sahut pak Afandi
“saya tidak tahu pak.”
Kemudian pak Afandi segera menemui tamunya. Ia terkejut akan kehadiran seragam yang tak asing lagi.
“ada apa pak?” tanya pak Afandi kepada pria berseragam itu
“maaf pak, kami dari pihak kepolisian.”
“oh, kalian anak buahnya pak Hakim? Mari silahkan masuk.”
“bagaimana pak, apakah putri saya sudah di temukan?”
“maaf pak, kami kehilangan jejak putri bapak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin.”
Beberapa detik kemudian, pak Afandi terjatuh tak sadarkan diri. Ia segera dibawa ke RS terdekat.
            Setelah kejadian itu, pak Afandi menjadi gila karena kehilangan putri kesayangannya. Akhirnya dia dirawat di RSJ pelita Indah. Dia mengalami depresi berat.

###

“Vi, sudah kamu siapkan laporan untuk meeting nanti?”
“sudah pak.”
“baiklah, meeting dimulai tepat pukul 10.”
“baik pak.”
Ruang meeting sepi. Hanya ada satu karyawan dari perusahaan lain yang sedang sibuk menyiapkan presentasinya. Sesekali dia melihatku dan memperhatikanku. Ah, tak kuhiraukan. Setelah meeting selesai, aku dan pak Rendy bergegas pergi meninggalkan ruangan itu.
Aku dan pak Rendy begitu akrab sehingga timbul ocehan-ocehan dari para karyawan. Namun, tak kuhiraukan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanyalah karyawan baru. Aku tidak tahu harus bagaimana. Sampai suatu ketika, aku bertemu kembali dengan mbak Indah di lantai dua.
“Via, sini!”
“eh mbak Indah, ada apa mbak?”
“ciyee, jadi asisten nich.”
“berkat mbak Indah. Terima kasih ya mbak.”jawabku sambil tersenyum kepadanya.
“ih, apaan sich, ini itu juga berkat kerja keras kamu bantuin mbak.”
Aku hanya tersenyum ringan.
“hmm, mbak Indah ada waktu untuk bicara denganku tidak?”
“emang mau bicara apa Vi?”
“kalau mbak Indah ada waktu, nanti pulang kantor kita ketemuan di restoran mbak.”
“ya sudah, insya Allah nanti mbak usahakan.”
Aku sudah menganggap mbak Indah seperti kakakku sendiri. Orang yang mengerti aku. Aku sangat nyaman bersamanya. Dia adalah satu-satunya orang yang aku miliki di tempatku sekarang.
###
“mbak, sebelumnya aku minta maaf sudah merepotkan mbak Indah.”
nggak apa-apa Vi, memangnya kenapa?”
“mbak, mbak Indah tahu kan gosip tentang aku dan pak Rendy?”
“ya, memangnya semua itu benar ya?”
“justru itu mbak, saya ingin menjelaskan semuanya kepada mbak Indah kalau saya tidak ada hubungan apa-apa dengan pak Rendy.”
“lalu kenapa, kalau itu memang tidak benar kenapa harus dipermasalahkan via?”
“saya sudah tidak tahan lagi mendengar ocehan-ocehan karyawan lain mbak. Apa yang harus saya lakukan? mbak Indah punya ide?”
“eemmm,,, sebenarnya sich ada, tapi, sudahlah kamu pasti tidak vsanggup menjalaninya.”
“apa mbak, insya Allah jika itu memang baik, saya sanggup untuk melakukannya.”
“bagaimana jika kamu mengundurkan diri dari perusahaan ini?”
“tapi mbak, lantas saya bekerja di mana?”
“kamu kan anak yang berbakat, jadi kemungkinan besar kamu mudah untuk mencari pekerjaan.”
“mbak, saya sudah bahagia sekali bekerja di sini, di sini saya mempunyai kelpuarga yang menyayangi saya.”
“tapi Vi, mana ada anggota keluarga yang menfitnah anggota keluarganya sendiri? Mana ada Vi? Sekarang kamu pikir dech, kalau mereka sayang sama kamu, seharusnya mereka tidak asal nuduh kamu kan?”
Aku hanya bisa diam. Memikirkan semua itu. Tak lama kemudian aku langsung beranjak pergi dari restoran tempatku dan mbak Indah bertemu.
###
Derap hati ini menahan luka
Luka yang amatlah dalam
Kepada yang terkasih,,
Maafkan daku
Yang tak bisa menjagamu,,
Reluh hati
Menahan perih
Sesak,,,
Sungguh amat sesak,
Maafkan daku
Kau yang terkasih
            Aku tengah mendengar isu, mbak Indah sudah lama menyukai pak Rendy. Aku berpikir, mungkin dia ingin menyingkirkanku dari perusahaan ini. Tak kusangka mbak Indah setega kitu kepadaku. Aku sakit. Aku terpaksa meninggalkan semua pekerjaanku. Pekerjaan yang sangat aku cintai. Meski begitu berat, namun aku harus tetap meninggalkannya untuk kebaikanku. Selamat tinggal.
###
            Tak beberapa lama, aku diterima di sebuah perusahaan property. Secara materiil, perusahaan baruku ini lebih maju dan sukses. Tapi, aku jtidak tahu apakah ini memang yang terbaik untukku? Hari pertama bekerja, diam, hampa, hambar. Di sini aku mengenal pak Rusli, pemilik perusahaan ini. Beliau terkenal sangat ramah terhadap para karyawan-karyawannya, termasuk aku.
            Perasaanku terhadap pak Rusli sangat tidak enak. Sikapnya terlalu berlebihan kepadaku. Beliau sering mengajakku makan di restoran-restoran mahal tanpa ada alasan yang yang jelas. Aku mencoba menghilangkan prasangka burukku itu. Aku tidak bisa.
            Beberapa waktu kemudian, nyonya Rusli mendatangi rumahku.
“PLAAK!”
Lemparan tangannya mendarat dipipiku.
“apa yang anda lakuakn nyonya?” teriakku
“dasar perempuan nggak tahu diri, beraninya merebut suami orang!”
“apa maksud anda nyonya?”
“heem,, maksud saya? Kamu dipecat!”
“tapi nyonya,?”
“PLAAK!” sekali lagi orang itu menamparku lantas meninggalkan rumahku tanpa pamit.
###
Ya rabb,,,
Apa yang Kau lakukan padaku?
Cobaan apa lagi ini?
Tidakkah aku sudah terlalu sabar
Menerima harimauMu?
Aku sudah hancur
Aku kehilangan semuanya
Keluarga, sahabat, pekerjaan
Lantas apa lagi yang ingin Kau ambil dariku?
Ambil!
Aku tak butuh semua ini
Ambil!
Aku berteriak-teriak di atas sungai yang curam. Aku ingin bunuh diri. Tiba-tiba, kudengar langkah kaki menghampiriku.
“Siapa kau?”
“hahaha, bagus, bagus, aktingmu bagus sekali” tawa seorang pemuda yang tiba-tiba muncul di belakangku.
“apa maksudmu?”
“Via,.. Via,.. kamu kenapa?”ucap pemuda itu sambil tertawa kecil.
Kuperhatikan sosok pemuda itu, ternyata dia adalah sahabat kecilku, Brian. Kita memang sudah lama tidak bertemu.
“Brian? Kamu ngapain ke sini? Bagaimana kamu tahu aku di sini?”
Brian tertawa kecil sambil berkata.
“apakah kamu ingat pada waktu meeting kemarin ada seseorang yang memperhatikanmu?”
Ku ingat waktu meeting bersama pak Rendy memang ada sesosok pria yang terus memperhatikanku.
“jadi, itu kamu?”
“ya, lalu aku selalu membuntuti ke mana saja kamu pergi. Sehingga aku bisa menemukanmu disini.”
“lalu mau kamu apa Yan?”
“apa kamu tidak rindu dengan ayahmu?”
“cih, ngapain aku mikirin dia!”
Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.
“Yan! Apa yang kamu lakukan!”
“kamu anak durhaka Vi! Kamu sudah melupakan orang yang membesarkanmu, orang yang sangat berarti dalam hidupmu. Coba kamu pikir, jika ayahmu tidak menafkahimu dan ibumu, kamu mau makan apa?” hentak Brian di depan mukaku.
Aku diam. Aku sadar. Aku berpikir.
“oke, antar aku pulang sekarang!” sahutku dingin
###
Di perjalanan aku menangis. Tanpa Brian mungkin aku akan mati sia-sia. Tak kusadari, rumah ayahku sudah lewat.
“Stop! Brian kita mau kemana?”
“Ke Rumah Sakit Jiwa!”
“lalu, kenapa kita harus kesana?”
Brian menceritakan semuanya kepadaku. Aku hanya tertegun tak berdaya. Aku menyesal. Maafkan aku ayah.
###
Setibanya di RSJ aku langsung memeluk ayahku dengan kuat. Ayah hanya terdiam. Beliau meneteskan air mata. Ikatan batin kita memang sangat kuat.
“Ayah,, maafkan aku. Aku tidak peduli dengan ayah. Aku menyia-nyiakan kasih sayang ayah. Maafkan aku.”isakku tak terhenti.
“tak apa nak, maafkan ayah juga yang telah memaksakan kehendak kepadamu. Ayah juga minta maaf.” Ucap ayah pelan.
Suasana menjadi haru-biru. Semua hampa. Hanya aku dan ayah.
“nak, apakah kamu mau kembali tinggal bersama ayah?” ucap ayah tiba-tiba.
“tentu yah, tentu. Aku ingin kita bersama lagi, seperti dulu.”
Aku dan ayah kembali ke rumah. Disana kami mencurahkan segala kebahagiaan yang ada. Aku, Ayah dan Brian. Brian memutuskan untuk menemaniku dan ayah, sampai ayah benar-benar sembuh.
            Seketika itu, Brian memutuskan untuk menyambung tali silaturrahmi keluarga kami yang sempat terputus. Dia ingin menikahiku. Dengan izin ayah dan keluarga Brian, aku dinikahkan dengan Brian, sahabat kecilku. Kami menempuh hidup penuh warna dan kebahagiaan.
            Kebahagiaan itu hambar, ketika ayahku meninggalkan kami. Aku sangat sedih. Suasana mencekam itu kembali hadir dalam hidupku. Ayah, semoga kau tetap tenang di alam sana, bersama ibu.
Maafkan aku
Aku yang acuhkan kasih sayangmu
Membuatmu bersedih
Karna ulahku
Aku khilaf
Tak banyak waktuku bersamamu
Maafkan aku
Ayah,,,
Kau memang bukan ibuku
Yang selalu mengerti hatiku
Namun, kau adalah samudra
Penyejuk hati yang tlah gundah
Tawamu,,
Candamu,,,
Dulu,,
Kau berikan kasih sayang
Tak ternilai
Untuk kami,,,
Tanggung jawabmu,,
Terima kasih ayah..

Diary Orangeku Part. 1

0 komentar

Aku duduk di kursi taman. Ku buka diary orange ku. Ku tulis sesuatu. Tak sadar, tiba-tiba sesok wajah tampan menghamburkan konsentrasiku. Menghilangkan semua kata-kata manisku. Aku terpesona. Aku tak  mampu menghindar darinya. Aku diam.
“hei,,! Ngapain kamu disini? Sendirian lagi!”
“hei,, eh,,, nggak,, aku nggak sendiri kok, kata siapa aku sendirian?” jawabku kaget, menghilangkan sedikit rasa nervousku.
“truz,, mana temanmu itu? Ke toilet? Toilet kan jauh dari sini, masa’ dia tega sih ninggalin kamu sendirian? Malam-malam begini lagi.”
“nggak kok, temenku ada di dekatku.”
“hah?? Mana?? Siapa?” tanyanya kaget sambil tengak-tengok kesana-kemari. “nggak ada gitu nee,,”
Aku terdiam sambil menahan tawa yang sudah hampir meledak.
“tuh dia,”
“mana?” dia menengok kesana-kemari, berharap ada sesosok orang disana. Tapi nihil! Bulu kudunya tiba-tiba berdiri. “mana sich?”
“tuch,” aku menunjuk buku orange ku sambil tetawa cengingisan.
“heeeaaa,,,,, kirain siapa,, merinding tau!”
“hahahaha,, masa’ cowok merinding sich? Iihh,,,”
“ah udah ah,, pulang yuk,,”
“ngapain di rumah? Mending aku disini ajah. Sepi, sunyi, tentram, abadi.” Kataku alay.
“hhhmmmm,, gitu yah? Beneran nih nggak mau pulank bareng? Mumpung gratis lo,.,,” dia melirik diary orange ku,, seakan-akan ingin tahu apa isi di dalamnya.
“Hiih,, emang aku cewek matre apa?”
 Srap! Aku kaget! Bukuku langsung di ambil tanpa ada aba-aba.
“hei!! Mana bukuku?? Kembalikan !!!”
Namun, usahaku sia-sia. Dia berhasil membawa lari diary kecilku. Akhirnya aku pulang dengan malas. Apa yang harus aku lakukan jika di benar-benar membaca seluruh diaryku? Apa yang akan terjadi? Ya Allah,, apa yang harus aku lakukan?tebersit rasa ke bingungan di hatiku.
###
“hmm,, apa ya isi buku kecil ini? Aku jadi penasaran.” Aku membuka lembar demi lembar buku orange itu. Tak kutemukan hal yang istimewa di dalamnya. Hanya seperti buku diary cewek biasa. Aku mulai malas dan mengantuk, tak tertarik untuk membuka halaman berikutnya. Akupun tertidur.
###
Pagi yang cerah. Warnai negeri ini dengan sejuta nikmat duniawi. Cahaya seakan menusuk-nusuk jendela kamarku, membangunkanku.
“huaaa,, hhmm,,, capek banget.” Aku terbangun. Kuraba buku kecilku di bawah bantal. Tidak ada. Aku bingung, aku nggak mungkin meninggalkannya di tempat lain.
“aduch,,, diman sich?” ku lirik kanan kiri. Aku putar-putar  kepala, berkonsentrasi memperhatikan seisi kamarku. Tak ada!
“fiuhh,,” kucoba tenangkan fikiranku. Ku rebahkan diri di kasur. Ku pejamkan mata perlahan.
“astaghfirullohal adzim,,,, Aldi! Bukuku di bawa Aldi tadi malam. Gawat! Aku harus bagaimana?”
Aku teranjak dari kasur. Berputar-butar layaknya orang linglung. Kupikirkan segala cara untuk mendapatkan diary orangeku kembali.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumah Aldi.

Wanita

0 komentar

Cuaa-cuap byar!!

0 komentar

Ketika asa adalah sebuah bencana
hati ini hanya derita
Yang tiada kunjung jua
Mencoba merangkak di kehidupan yang kelam
Tuk gapai cinta yang terindah
Hanya harapan yang tak terarah
Mengasah pisau daging
Mengasah otak bodoh
Bahkan mengasah dinding persahabatan
Mencoba tuk raih mimpi dan harapan
Tapi, apa jua tak sanggup
Tak mampu
Tak ingin lari
Kecewa
Berpisah dari amanah pahitmu
Aku coba tuk lepas penat di hatiku
Namun, apalah dayaku,
Jika memang Dia tak berkehendak
Lalu apa yang bisa aku perbuat
Jika Dia tak mengizinkan,
Apalah daya arti usaha
Mencoba buka tabir keindahan
Menajamkan fikiran
Apalah yang terjadi
Ku gores tinta tuk hiasi hari
Mencoba usaha
Tuk arti sebuah kebebasan
Tuk arti sebuah kejayaan
Ku cari lembaran-lembaran kusam
Tak kutemukan
Ku gapai bintang biru di sudut almari
Kubuka
Indah nian
Elok nian rupanya
Namun, tangan ini terasa pedas
Aku menyobeknya
Ku buang jauh-jauh
Lembaran yang telah buatku hancur
Sakit hati…

Aku mencintaimu,,
Aku menyayangimu dengan sepenuh hatiku,..
Kau tahu,,
Kau takkan pernah mengetahuinya,,
Karna akan ku simpan perasaan ini dalam-dalam
Jauh di lubuk hatiku yang terdalam,,
Aku sudah terlanjur kecewa denganmu,,
Tapi, tanpamu, aku bukan apa-apa
Kau adalah pengisi ruang kecil yang kosong di lubuk hatiku,,
Sayang, kau hanyalah seorang sahabatku,..
Aku  tak ingin mengotori kesucian persahabatan ini,,
Bukan sahabat jadi cinta,,
Melainkan cinta seorang sahabat yang tiada duanya.