Aku duduk di kursi taman. Ku buka diary orange ku. Ku tulis sesuatu. Tak sadar, tiba-tiba sesok wajah tampan menghamburkan konsentrasiku. Menghilangkan semua kata-kata manisku. Aku terpesona. Aku tak mampu menghindar darinya. Aku diam.
“hei,,! Ngapain kamu disini? Sendirian lagi!”
“hei,, eh,,, nggak,, aku nggak sendiri kok, kata siapa aku sendirian?” jawabku kaget, menghilangkan sedikit rasa nervousku.
“truz,, mana temanmu itu? Ke toilet? Toilet kan jauh dari sini, masa’ dia tega sih ninggalin kamu sendirian? Malam-malam begini lagi.”
“nggak kok, temenku ada di dekatku.”
“hah?? Mana?? Siapa?” tanyanya kaget sambil tengak-tengok kesana-kemari. “nggak ada gitu nee,,”
Aku terdiam sambil menahan tawa yang sudah hampir meledak.
“tuh dia,”
“mana?” dia menengok kesana-kemari, berharap ada sesosok orang disana. Tapi nihil! Bulu kudunya tiba-tiba berdiri. “mana sich?”
“tuch,” aku menunjuk buku orange ku sambil tetawa cengingisan.
“heeeaaa,,,,, kirain siapa,, merinding tau!”
“hahahaha,, masa’ cowok merinding sich? Iihh,,,”
“ah udah ah,, pulang yuk,,”
“ngapain di rumah? Mending aku disini ajah. Sepi, sunyi, tentram, abadi.” Kataku alay.
“hhhmmmm,, gitu yah? Beneran nih nggak mau pulank bareng? Mumpung gratis lo,.,,” dia melirik diary orange ku,, seakan-akan ingin tahu apa isi di dalamnya.
“Hiih,, emang aku cewek matre apa?”
Srap! Aku kaget! Bukuku langsung di ambil tanpa ada aba-aba.
“hei!! Mana bukuku?? Kembalikan !!!”
Namun, usahaku sia-sia. Dia berhasil membawa lari diary kecilku. Akhirnya aku pulang dengan malas. Apa yang harus aku lakukan jika di benar-benar membaca seluruh diaryku? Apa yang akan terjadi? Ya Allah,, apa yang harus aku lakukan?tebersit rasa ke bingungan di hatiku.
###
“hmm,, apa ya isi buku kecil ini? Aku jadi penasaran.” Aku membuka lembar demi lembar buku orange itu. Tak kutemukan hal yang istimewa di dalamnya. Hanya seperti buku diary cewek biasa. Aku mulai malas dan mengantuk, tak tertarik untuk membuka halaman berikutnya. Akupun tertidur.
###
Pagi yang cerah. Warnai negeri ini dengan sejuta nikmat duniawi. Cahaya seakan menusuk-nusuk jendela kamarku, membangunkanku.
“huaaa,, hhmm,,, capek banget.” Aku terbangun. Kuraba buku kecilku di bawah bantal. Tidak ada. Aku bingung, aku nggak mungkin meninggalkannya di tempat lain.
“aduch,,, diman sich?” ku lirik kanan kiri. Aku putar-putar kepala, berkonsentrasi memperhatikan seisi kamarku. Tak ada!
“fiuhh,,” kucoba tenangkan fikiranku. Ku rebahkan diri di kasur. Ku pejamkan mata perlahan.
“astaghfirullohal adzim,,,, Aldi! Bukuku di bawa Aldi tadi malam. Gawat! Aku harus bagaimana?”
Aku teranjak dari kasur. Berputar-butar layaknya orang linglung. Kupikirkan segala cara untuk mendapatkan diary orangeku kembali.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumah Aldi.






0 komentar:
Posting Komentar