Bukan Orang Spesial




Bukan Orang Spesial

Ya Allah, jika dia memang terbaik untukku, maka dekatkanlah kami dengan indah.
Namun, jika dia tak baik untukku, maka jagalah aku darinya

          Kosong. Mataku menerawang jauh. Berfikir akan sebuah mimpi indah yang tak tahu kapan akan terwujud. Rengekan kursi goyangku ku abaikan. Aku tak peduli. Khayalan ini sangat menggangguku. Ya Allah, aku tak ingin terjebak dalam ilusi para sakura yang menari indah di atas angan-angaku.
          “Rani! Rani!” suara ibu membangunkan lamunanku, kursi goyangku semakin menjerit ketika aku meninggalkannya dan memenuhi panggilan ibu.
          “iya bu...” sahutku tergesa sambil setengah berlari menuju meja makan. Disana kulihat kakak dan ayah duduk manis di depan hidangan yang belum lengkap untuk disajikan. Sedngkan ibu mondar-mandir membawa masakannya dari dapur.
          “Dhek, bantuin ibu sana! Ngapain diam aja disitu!” sahut kakakku.
          “yee, kakak sendiri yang dari tadi liat ibu repot nggak mau bantu. Huu.. !”
          “sudah, sudah, ayo makan, ibu sedah selesai kok!” sahut ibu.
Masakan-masakan ibi kami nikmati, bukan hanya sekedar untuk mengganjal perut, tapi, aku akui, masakan ibuku memang enak.
###
          Setiap aku berangkat sekolah, bayangan laki-laki tak berdosa itu selalu hadir di otakku. Bagaikan sebuah debu yang terbawa oleh angin, aku tak berdaya. Ilusi ini tak pernah absen bagai sang mentari yang selalu hadir di setiap pagi.
          Kedekatanku dengan Reza sekarang, jika dibandinhkan dengan sikapku dulu kepadanya sangat berubah. Orang-orang bilang, itu karena karma. Seakan sebuah momok yang selau menghantui tiap kehidipan manusia. Tentang sikap, sifat dan tindakan. Ya, Karma!
          Dulu, aku benar-benar membencinya. Aku tak menyukai ketika dia melihatku. Dalam wajahnya, terdapat sebuah senyum manis yang menyungging. Senyum itu meledek. Aku selalu risih melihay wajah itu. Aku merasa bagaikan badut yang selalu dia nikmati. Seorang badut yang dilecehkan.
          Suatu ketika, ada sebuah acara diklat oleh jurusan IPA. Kelas kita memang berbeda tapi aku dan Reza kebetulan satu jurusan. Waktu itu, aku yang menjadi salah satu panitia pelaknsana dalam acara itu. Aku menginginkan acara itu sukses dan aku selalu bersiap untuk menghandle acara itu.
          Dari situ, aku sedikit mengenal Reza. Sosok yang selama ini aku benci, ternyata mempunyai sebuah rahasia yang mungkin tak semua orang tahu. Semakin hari, aku merasa nyaman ada di dekatnya, meskipun kebanyakan dalam dunia maya. Ada sesuatu yang selalu membuatku kagum kepadanya, perhatiannya, cerita-ceritanya, pengalamannya, ah.. aku tak bisa menyebutkannya satu per satu. Semakin hari aku semakin mabuk dengan sikapnya. Mempesona.
          “Reza!” panggilku sambil mengayunkan tangan kananku. Reza bergegas menuruni tangga. Mendekatiku. Di sampingnya kulihat seorang laki-laki yang mengikutinya, dia berjalan lebih lambat dari Reza. Laki-laki remaja 18 usia. Sejenak. Ku perhatikan dia. Ku putar memori otakku, kupaksa bekerja keras agar mengingat laki-laki itu. Ya! Dia adalah Deni, sahabat kecil Reza.
          “hai Den!” sapaku reflek kepada laki-laki itu. Sepi, tak ada jawaban dari Deni. Aku kembali terdiam. Malu.  Tanpa aku sadari, Reza telah berdiri mematung di depanku.
          “Rani? Hello!” seru Reza sambil menggerakkan tangannya di depan mukaku.
          “eh, iya Za, hehe.. maaf.” Kusunggingkan senyum manis kepadanya, memohon maaf.
          “ada apa Ran?” tanya Reza. Tidak biasanya aku memanggilnya tiba-tiba ketika pulang sekolah seperti ini.
          “hmm, nggak ada apa-apa kok. Oh ya, liburan depan kamu ulang tahun ya? Tapi sayang aku gag bisa ngerayain bareng kamu. Aku dan keluargaku akan pergi ke luar kota. Ke rumah nenekku. Jadi, sebagai gantinya, nih ada kotak kecil untukkmu. Kasihan nanti kalau waktu ulang tahun nggak ada yang ngasih kotak.” Jelasku.
          “hahaha..”sebuah tawa meledak diantara kami. Namun, Reza tetap terdiam, dia tak berkata sedikitpun.
          “eits, tapi dibuka pada hari “H” lo ya..” aku tersenyum sambil memberikan kotak itu kepada Reza. Tetap dingin. Reza hanya mengangguk dan menerima kotak dariku. Hanya satu yang kalimat yang aku dengar darinya, meskipun sedikit samar.
          “terima kasih.”
###
10 September 2012
          Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Sementara aku masih berada di Jogja. Dalam anganku, apakah dia membuka kotak itu hari ini? Pikiranku selalu melanyang ke arah sebuah ilusi tentangnya. Aku ingin menghubunginya. Tapi, ah.. biarlah, aku juga tak ingin menjadi pengganggu di hari bahagianya ini.
###
          Sebuah pesan ucapan “Selamat Ulang Tahun” datang dari nomor tak dikenal di ponsel Reza.
          Terima kasih, maaf siapa ya?
Reza me-reply pesan itu.
          Ini Lia Za, sahabatnya Rani. Ingat gak?
Balas Lia.
            Oh, iya, aku masih ingat kok.
Reply Reza.
            Syukur deh, oh ya, aku masih mau nerima syukuran dari kamu lo za.. hehehe. . eh iya, aku pengen tahu nih, si ganteng Reza dapat hadiah apa nih dari orang spesial? J
Reply dari Lia.
          Hehehe, iya deh insya Allah, kapan-kapan aja,. J hmm,, dapat hadiah apa ya?? Hehehe.. dapat hadiah doa.. J
Reply Reza. Setelah itu tak ada balasan dari Lia.
###
          Terdengar instrumen lagu favoritku membangunkan tidurku. Sebuah pesan masuk dari sahabatku, Lia.
          Hai Rani,..! lagi apa nich? J eh iya, kita bisa ketemu nggak,? Kebetulan nih aku juga lagi di Bogor sama keluarga.
Aku mengernyitkan dahi. Tumben batinku.
          Baiklah.. ntar sore aku ke sana. J
###
          “Hai Ran! Aku di sini!” teriak Lia padaku.
          “eh, iya,.. ada apa sih Li? Kayaknya ngebet banget pengen ketemu aku?” Tanyaku.
          “ehm,. Eh, kamu ke sini sama siapa? Kok aku nggak liat orang tuamu?”
          “sama saudara sepupuku. Tuh dia!” kataku sambil ku acungkan jar telunjukku kepaada sespupuku yang tengah menungguku. “eh, kamu di sini lama nggak?” tanyaku kembali.
          “ya lumayanlah, ntar kamu bar dantar keluargaku aja gimana?” ajak Lia.
          “hmm, iya deh. Bentar ya, aku bilang ke sepupuku dulu.” Balasku dengan senyum.
          Aku beranjak dari tempat itu, melangkahkan kaki menuju sepupuku yang kulihat sedang asyk berman ponsel di atas motornya. Dia memakai celana jins dan hem hitam putih bergaris. Baru ku sadari, ternyata sepupuku keren juga.
          Setelah aku memberi tahu sepupuku agar meninggalkanku di sini, memberinya pengertian, sebab aku tahu ayah berpesan untuk selalu menjagaku, meski dengan beribu-ribu pertanyaan yang dia lontarkan, akhirnya dia memutuskan untuk pergi, aku berjalan menuju Lia. Dia mendongakkan kepalanya. Entah, beban apa yang ingin ia utarakan sekarang? Kelihatannya sangat serius, jantungku berdetak semakin cepat.
Jarak langkahku dengantempat duduk Lia semakin dekat. Aku terus mengamatinya, sepertinya dia merasa kesulitan untuk merangkai kata. Ah, seandainya aku tahu apa yangingin dia utarakan, aku akan membantunya menyusun rantai-rantai berkorosi itu. Sebab ku rasa, rantai-rantai itu semakin membuat sahabatku gelisah, atau terluka. Ah, aku tak mengetahuinya.
“Door!!” gertakku kepada Lia.
“ah, iya.. udah selesai bilangnya? Tumben di bolehin?” balas Lia, sambil menyunggingkan senyum. Lesung pipitnya membuatnya semakin cantk. Aku hanya membalasnya dengan senyum tak berdosa. Kurasa, Lia tahu kalau aku telah mati-matian merayu sepupuku agar pergi meninggalkanku.
          “kamu mau ngomong apa sih Li? Aku jadi ikut deg-degan nih!” tanyaku.
          “sebelumnya aku minta maaf Ran, aku juga mengerti apa yang sedang engkau rasakan. Tentang kau dan Reza.” Sejenak, Lia menghentikan ucapannya, menoleh ke arahku dengan mata sedikit berkaca. Aku tetap diam. Menunggu mutara yang mungkin akan menjadi rantai yang berkorosi bagiku.
          “Tentang kado itu, tentang harapanmu itu, aku takut kau semakin berharap kepadanya, aku khawatir kau terluka. Aku tahu, aku mengerti yang kau rasakan Ran.” Lanjut Lia.
          “sudahlah Li, tak apa. Tak perlu khawatir kepadaku. Dia hanya teman dekatku, aku juga tak berani berharap menjadi orang spesial di hatinya. Memangnya, apa yang terjadi?” tanyaku semakin penasaran.
          “tentang kado itu, tentang orang spesial itu, menurutku, aku bukan orang spesial baginya. Maafkan aku harus berkata seperti ini. Aku mendengarnya dari bibir manis itu. Aku minta maaf.” Lanjut Lia dengan memalingkan wajahnya. Tak tega menatapku. Sejenak suasana itu hening. Aku tersenyum.
          “tak perlu bersedih seperti itu, aku tak apa, toh mungkin ini adalah yang terbaik untukku dan untuknya. Aku tahu aku sakit mendengar ucapan itu. Tapi aku yakin ada yang lebih baik dan lebih menghargaiku daripadanya. Aku tak apa.” Aku menyunggingkan sebuah senyum. Menghapkan mukanya agar dia menatapku. Mungkin dia melihat setetes air mata jatuh mengenai pipiku.
          Kami menikmati suasana senja waktu itu. Udara begitu dingin. Pada malam harinya, ketika bulan bersinar terang, menampakkan purnama kebijaksanaannya. Aku berusaha bangkt dar asa yang terus menghujam ini. Merenung, sambil memangdang indahnya persahabatan para bintang.
          Ya, aku berusaha menahan peluh-peluh yang memaksa keluar dari kelopak mataku.aku mencoba mempertahankan ingatanku, agar aku lebh tenang, lebih sadar, dan lebih ikhlas.
          Aku dan kamu adalah teman. Hanya frasa itu yang mampu menyadarkanku dari ilusi abu-abu. Ku tenangkan hatiku, batinku, fikiranku. Ya, Allah masih mempunyai rahasia besar yang semua makhluk di bumi. Tidak akan pernah tahu, apa rahasia besar itu.
          Perlahan, ku tepiskan semua rasa yang telah datang tanpa undangan dariku. Kutebarkan sakura-sakura yang kiat melekat d kehidupanku. Ku tutup semua pintu, kecuali satu, pintu cntaku kepada sang Kholiq, sang Rahim, Allah SWT. Sementara itu, aku berdo’a:
Ya Allah, jika dia memang terbaik untukku, maka dekatkanlah kami dengan indah. Namun, jika dia tak baik untukku, maka jagalah aku darinya.

0 komentar:

Posting Komentar